Mutiara Estetika di Kampung Atas Taman Sumenep Madura

Sonjo Kampung edisi Maduradwipa

MAKNA KATA “TAMAN” PADA KAMPUNG ATAS TAMAN :

Kalkulasi Ekologis Pemilihan Lokasi Keraton Songhenep dan Permukiman Keluarga Dalam

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Taman dalam Arti Sumber Air

Demi mendengar atau membaca kata “taman”, asosiasi kebanyakan orang kepada areal yang ditumbuhi oleh bebungaan dan aneka tanaman hias, pepohonan, maupun fasilitas rekreatif, yang direlasikan dengan istilah asing “park”. Pengartian demikian sedikit berbeda dengan istilah ‘taman’ dalam bahasa lokal Madura, yang lebih menekankan kepada keberadaan sumber air (‘tuk’ di dalam bahasa Jawa). Bahwa pada kata ‘taman’ dalam arti sumber air terdapat bebungaan, tanaman hias, pepohonan, dan bahkan bangunan kolam serta bilik mandi (pemandian) acapkali dijumpai. baik dalam bahasa Jawa ataupun Madura. Seperti pada sebutan “taman sari”, yang dalam konteks sebutan ini mengalami reduksi arti sebagai tempat pemandian bagi para putri, sehingga dipadanartikan dengan “keputren”. Pengertian yang lebih luas dari kata “taman” yang tak hanya sekedar menunjuk kepada keputren (tempat mandi para putri) antara lain didapati sebagai toponimi di areal pusat kota Sumenep.

Selain sebutan “taman sari” untuk suatu sub-areal dalam kompleks keraton Songhenep (nama arkhais ‘Sumenep’, bukan dari kata ‘Sumekar’), yang memang menunjuk kepada pemandian para putri, di luar tembok keraton pada wilayah Desa Pajagalan, khususnya di Kampung Atas Taman, terdapat toponimi “taman lakek (kini areal PDAM) dan “‘Taman Binek (kini pada areal rumah tinggal keluarga Farid)”, yang keduanya menunjuk kepada sumber air (somber aeng) besar yang tak kering sepanjang musim. Kata “lakek (laki, pria)” dan “binek (bini, perempuan)’ menunjuk pada spesifikasi pengguna sumber air itu, yakni orang-orang yang berbeda sex (jenis kelamin)-nya. Selain kedua sumber air yang telah semenjak amat lama didesain sebagai bangunan perairan, dalam lingkungan keluarga luas (extended family) dari keluarga Farid — yang terdiri atas empat keluarga batih (nuclear family) dengan masing memiliki rumah besar, artistik, dan modern pada jamannya ketika dibangun lebih dua abad lalu, juga terdapat sebuah sumber air lain yang digunakan untuk dua atau tiga keluarga batih sekaligus, yang disebut dengan “taman roma”.

Dinamai demikian, karena taman (sumber air) yang konon berada di belakang dua dapur (kini runtuh) dan dilengkapi dengan kolam persegi bersudut lengkung, bilik mandi, tangga di dalam air serta konon disertai gapura (sekarang runtuh) ini secara pribadi (privad) dipergunakan untuk tempat mandi (paseraman) dan pengambilan air bersih (pangangson) bagi dua rumah tangga (kata “roma” dalam bahasa Madura menunjuk kepada rumah). Selain sumber-sumber air itu, masih ada lagi beberapa sumber air (taman) lain yang berdekatan jarak, yang juga dimanfaatkan serupa sebagai “taman roma”. Limpahan air dari taman sari, taman lakek dan binek, serta beberapa taman roma itu mengalir menjadi sungai-sungai kecil (sok-sok, semacam kalen) dan bertemu satu sama lain (menyatu tubuh) menjadi sungai yang lebih besar dengan air yang amat jernih.

Posisi topografis dan masing-masing taman beserta sungai kecil tersebut lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya, yang dijadikan sebagai areal untuk permukiman. Atau dengan perkataan lain, terdapat areal yang mencekung padamana sumber-sumber air itu mengantong. Oleh karena posisi rumah-rumah tinggal tersebut (baca “kampung”) berada diatas sumber air (taman), maka sebutan baginya adalah “Kampung ATAS TAMAN”, yang secara administratif pemerintahan berada di Desa Pajagalan (kata dasar ‘jagal’ terkait dengan adanya tempat pembantaian hewan), yang bertetangga dekat dengan kompleks keraton Songhenep. Demikianlah, unsur toponimis ‘taman’ memberi kita petunjuk mengenai potensi keairan. yakni sumber-sumber air (tuk) dan sungai tepat limpahan air daripadanya.

B. Kalkulasi Ekologis bagi Areal Tinggal

Salah satu diantara beberapa pertimbang bagi pemilihan dan penentuan areal permukiman lama adalah keberadaan dan kecukupan akan air tawar-bersih bagi warga bersangkutan. Air bersih, khususnya air permukaan, yang berupa sumber air ataupun air sungai, dengan demikian adalah unsur fisis-alamiah (ekologis) yang keberadaannya pada suatu tempat dipertimbangkan untuk dipilih sebagai areal tinggal banyak orang atau permukiman (settlement). Ketiika eksplorasi air bersih yang jauh berada di dalam tanah tidak gampang dilakukan kerena kala itu ada keterbatasan dalam penguasaan tenologi dan perangkat pengembilan air tanah, maka paling paling mudah adalah tinggal di areal tertentu yang memiliki air permukaan yang bersih dan berkecukupan sepenjang musim (penghujan dan kemarau). Hal inilah yang penulis maksud dengan pemakaian istilah ‘kalkulasi ekologis’.

Kalkulasi sebagaimana itu didapati jejak buktinya pada situs-situs permukiman pada Zaman Presejarah. Kendatipun pada masa selanjutnya, yakni pada Masa Hindu-Buddha dan Masa Awal Perkembangan Islam, telah dimampui teknologi pengambilan air tanah secara mekanis, baik dengan menggunakan gayung bertali ataupun lewat ‘sumur senggotan’, namun memilih lokasi tinggal di dekat atau sekitar perairan jenis air permukaan tetap menjadi priortas bagi pemilihan lokasi bermukim. Bahkan di bebarapa tempat, khususnya yang permukaan air tanahnya berada jauh di dalam tanah, pilihan demikian terus berlangsung hingga kini. Tidak terkecuali permtibangan ekologis, tepatnya kalkulasi hidrologis, dalam pemilihan lokasi bagi pembangunan keraton dan rumah-rumah tinggal anggota keluarga luas keraton yang berada di luar tembok keraton namun bertetangga dekat dengan kompleks keraton Somghenep. Unsur ekologis penting yang dalam hal itudipertimbangkan adalah taman (sumber air).

Kampung Atas Taman, yang memiliki unsur ekologsi berupa sejumlah sumber air dan sungai (tempat mengalirnya luapan air dari padanya) dipertimbangkan sebagai areal yang tepat untuk bermukim bagi anggota keluarga luas Sultan Songhenep, Jadi, dasar pertimbangannya untuk memilih areal bermkimnya tak sekedar lantaran dekat dengan lokasi keraton, namun juga memperhitungkan keberadaan taman (sumber air)/ Kalaupun pada tempatnya tinggalnya itu tidak terdapat sumber air, namun di sejumlah desa-desa sekitar keraton, utamanyai Desa Kapanjin, Pajagalan, Bangselok dan Karangduak, permukaan air tanah terbilang tidak begitu dalam, sehingga memungkinkan untuk ditimbai dengan dengan menggunakan sumur gali. Selain itu, disebelah selatan keraton dan Desa Pajagalan terdapat areal yang dinamai ‘Karangraba’. Unsur toponimis ‘raba’ menunjuk pada ‘areal berawa (kosonan ‘B’ acap bertukar dengan ‘W”, raba = rawa). Pada areal yang kini perairannya rawanya telah mengering terdapat jejak permukiman lama, yang memberi gambaran tentang adanya permukiman di sekitar rawa (istilah Jawa ‘bonorowo’). Keraton Songhenep sebagai pusat wilayah dan sekaligus pusat pemerintahan kasultanan di masa lampau dengan demikian menerapkan ‘bijak ekologis’, yakni bijak dalam memilih areal ekologis yang memberi kemudahan untuk dapat memasok kebutuhan hidup yang berupa air bersih. Demikianlah, adaptasi ekologis telah diteladankan oleh oleh para leluhur (pendahulu) lewat pemilihan areal tinggalnya.

C. Urgensi Telaah Ekologi-Historis Areal Sekitar Keraton Songhenep

Kabupaten Sumenep secara historis terbilang beruntung di wlayah Jawa Timur, karena merupakan satu-satunya daerah di provinsi ini yang hingga kini masih memiliki bangunan keraton besarta rumah-rumah tinggal anggota keluar dalam keraton. Kalupun daerah-daerah lain di masa lampau memiliki keraton, baik yang berasal dari Masa Hindu-Buddha maupun Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, namun pada masa sekarang sosok arsitektural keraton tersebut telah tidak ditemukan dalam kondisi utuhan bahkan yang fragmentaris sekalipun. Oleh karena itu, berkah keberuntungannya itu tak boleh disia-siakan, setidaknya untuk kepentingan pembelajaran dan wisata kota. Terkait itu, teaah ekologi-historis perihal areal Keraton Songhenep dan permukiman penyangga dari warga sekitar keraton menjadi penting artinya, terlebih selama ini jejak-jejak historis-arekologis-ekologis di sekatar kompleks keraton terkesan ‘tenggelam’ atau kurang mendapat perhatian ketimbang perhatian berlebih terhadap keraton, Masjid Agung dan Asta Tinggi. Padahal, jejak-jejak tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih holistik mengenai sejarah panjang tentang pertimbuhan dan perkembangan pusat kota Sumenep.

Selain itu, sayang sekali klaster-klaster kuno yang hingga kini secara toponimis dan peleo-ekologis di lingkungan pusat kota Sumenep, seperti tergambarkan pada toponimis desa pada nama Kapanjin (panji = bangsawan keluarga luas sultan, Pajagalan (jagal = pemotongan binatang ternak), Pandian (kamping pande), Kacongan (kacong = abdi dalem), paberasan (sentra pengepul dan penjualan beras), Kebonagung dan Kebunan (sentra perkebunan/persawahan), dsb. bisa menjadi pentunjuk historis mengenai fungsional desa-desa di sekitar keraton pada masa lalu. Selain itu, toponimi paleo-ekologis seperti Taman Sari, Taman Lakek, Taman Biner, Kampung Atas Taman, Karangraba, dsb. memberi pula pentunjuk tentang kondisi ekologis areal pusat kota Sumenep pada suatu masa di waktu lalu, yang kini kondisi ekologisnya telah banyak berubah. Dalam hal itu, telaah toponimis yang disertai dengan pelacakan terhadap jejak-jejak tertingga;, baik jejak arsitektural arkhais (lama) maupun jejak paleo-ekologis menjadi penting artinya (urgen) untuk dilakukan. Atas hasil dokumentasi dan identifikasi terhadap kedua jenis jejak arkhais (kuno) itu, selanjutnya diruskan upaya konservasi dan fungsionalisasi, sehingga Sumenep yang merupakan daerah bersejarah dan sekaligus merupakan sentra peradaban di Maduradwipa tidak kehilangan aset budaya-lingkungannya yang berharga itu.

Marilah ke depan, Masyarakat dan Pemerintah Daerah Sumenep bersinergi untuk melakukan (a) eksplorasi historis-arkeologis-ekologis, (b) konservasi, dan (c) fungsionalisasi terhadap heritage (pusaka — pusaka budaya dan pusaka alam)-nya, agar karakter atau jatidiri daerahnya terliterasikan dengan jelas, agar klaimnya sebagai warga dan pemerintahan yang berperadaban riil hadir. Kami bersama komunitas-komunitas peduli dan pecinta budaya Songhenep ke depan merencanakan perhelatan seni-budaya yang bervisi historis-ekologis, baik dalam bentuk (1) jelajah jejak peradaban arkhais pusat kota, (2) seresehan konservasi- fungsioalisasi pusaka saujana di Sumenep, dan (3) pementasan seni-budaya di Kampung Atas Taman (pada permikiman heritage keluarga luas pak Farid di Taman Lakek-Binek). Semoga gagasan ini disambuti kjalayak, terealisasikan, dan membuahkan kefaedahan. Mator sakalangkong.

Sengaling, 4 September 2017

PATEMBAYAN CITRALEKHA – JAPUNG NUSANTARA

*reportase team program SERAMBI NUSANTARA UBTV dalam episode SOUND OF MADURA bagian 1 _”Mutiara Estetika di Kampung Atas Taman”_*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.