Kesimpulan kelayakan Blender untuk kebutuhan Industri

blog ini saya tulis untuk melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya. awalnya mau saya jadikan satu,.. berhubung jari capek ngetik ya udah saya posting seadanya.

Kalo kita bicara Animasi 3D, kita sudah tidak asing dengan software 3D 3DsMax,Maya,XSI dll, dan yang paling populer adalah 3Ds Max dan Maya. karena kepopulerannya inilah kebanyakan animator memilih ntuk mempelajarinya. Sama, saya dulu juga begitu. dulu saya mempelajari maya. dan ketika kebayakan teman menggunakan 3DsMax, ahirnya saya memilih migrasi tool ke 3Ds Max. Awalnya mempelajari aplikasi 3D kita kebayakan tidak punya tujuan selain belajar dan berkarya. kita tidak mau tau dengan apa yang akan kita lakukan ke depan. Untuk kita yang ingin bekerja distudio Animasi besar (Indonesia Belum ada) sepertinya kedua software itu menjadi pilihan yang tepat. tapi ketika kita akan membangun sendiri pasar animasi kita, sepertinya kita harus memikirkan hal itu.

kenapa saya bilang begitu, ini karena harga software itu tidak sebanding dengan kondisi pasar animasi kita. sebenarnya tidak begitu mahal, harganya sekitar 30jt

tapi ingat software ini tolls utama untuk produksi film animasi 3D. jadi kalo untuk kebutuhan produksi besar, gak mungkin  kita hanya butuh 1 software. untuk memproduksi film animasi serial minim kita gunakan 10 komputer terinstal aplkasi 3D. berarti kita butuh 300jt untuk software saja. belum lain2 seperti gaji animator Dll.

mikirin itu kayaknya malah bikin pupus harapan animator. jadi yang harus dipkirin gimana kita bisa produksi semurah mungkin. bukannya kita menilai rendah/murahnya animator kita. tapi justru kita sesuaikan dengan penghargaan TV nasional terhadap daya beli mereka yang begitu rendah.

katakanlah TV mau membeli animasi kita 20jt perepisode, lalu kita kontrak 1blok(13 episode) dengan studio animasi kita. apakan kita berani? perbloknya kita hanya dapat 260jt. padahal untuk beli softwarenya aja 300jt. lalu untuk beli komputernya 150jt(10komputer@ 15jt) dan gaji animator misalnya kontak 8 bulan dengan gaji 2jt dengan tenaga animator 15 orang(ini sudah minim bgt soalnya hanya ada waktu 8 bulan untuk 13 episode). katakan gaji perbulan 2jt(paling murah) untuk produksi diluar jakarta dan butuh dana 240jt untuk menggaji 15 animator dengan deadline 8 bulan/blok. itu belum listrik,tempat,sound,pengisi suara,penulis naskah,dll. OH MAY GAAD. itu masih biaya produksi aja udah segitu banyak. padahal itu hitungan termurah.

waduh kayaknya 20jt perepisode udah termasuk mahal kalo di banding TV Beli animasi bekas yang harga perspisodenya gak sampek segitu. lantas gimana animator kita bisa kerja?

yah.. begitulah… fakta industri animasi di indonesia yang kejam. tidak ada kata nasionalis dalam industri ini. yang ada aq bayar berapa n aq dapet apa?

LANTAS SOLUSINYA GIMANA?

agar sama2 jalan maka harus ada yang dikorbankan.  mungkin itulah solusinya. lantas apa aja yang harus kita korbankan? sebagian besar studio animasi diIndonesia mengorbankan harga dirinya dengan menggunakan software bajakan. meskipun mereka cuek dengan itu, hal tersebut bisa menjadi boomerang bagi studio animasi tersebut.

maka kesimpulanya, dengan melakukan penghitungan yang matang, studio animasi di indonesia bisa beproduksi dan tayang di TV. tapi tetap saja penghitungan tersebut tetap tidak memperhitungkan biaya software. dan lebih memilih pakek software bajakan.

dari keseimpulan tersebut saya coba mempelajari software open source blender dengan team. hal ini saya lakukan karena team kami tidak mau memberikan resiko sekecil apapun terhadap Investor. karena meyakinkan investor besarnya peluang animasi dan tetap menggunakan software bajakan, itu sama saja kita menjebak investor kita pada suatu masalah.

masalahnya, memang aplikasi open source masih meragukan untuk digunakan dalam produksi serial apalagi layar lebar. untuk itu saya dan team mengambil kesimpulan utuk melakukan riset produksi animasi menggunakan OpenSource.

untuk melakukan riset ini saya dibantu oleh 15 Animator. untuk masalah teknis kerumitan software untungnya kita terbantu dengan adanya komunitas blenderindonesia.org dlm perjalanan kami melakukan riset ini, kami membutuhkan waktu 2 tahun. ya.. memang cukup lama karena sistemnya gotong royong. sehingga waktu dan uang jajan menjadi kendala kami.

dari riset tersebut kami telah memperoleh hasil final kira2 seperti ini (kualitas SD)

dan untuk hasil gambar an video diatas kami memprediksikan mampu memproduksi 1 episode perbulannya.

tinggal sekarang bagaimana para investor dan TV nasional menanggapai hal ini. kalo pemerintah,… saya kurang begitu paham bagai mana cara pemerintah memahami animator kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.